Belajar dari tokoh...
Masa muda Daud//Sukacita//Tetap ada dalam persekutuan dengan
Allah
Pada pelajaran yang lalu, kita telah melihat
bagaimana Yonatan mempunyai kasih persahabatan yang indah dengan Daud. Nah
sekarang kita mau belajar tentang apa yang membuat sahabat Yonatan itu kuat
menghadapi hidupnya yang penuh tantangan.
Nah, siapakah diantara kalian yang pernah menghadapi
tantangan atau situasi yang sulit? Ketika kalian menghadapi ujian sekolah
mungkin? Atau ketika kalian sedang
berteman dan mengalami hal-hal yang tidak enak; difitnah, dimusuhi, diejek,
atau dijauhi teman-teman? Atau mungkin juga ketika kalian melihat papa-mama
sedang dalam masalah dan hati kalian ikut prihatin?
Yuk,
ingat sejenak pelajaran yang lalu. Yang telah lalu kita telah melihat bagaimana
setelah Daud menang atas Goliat, ia diangkat menjadi perwira kerajaan Saul.
Diutus kemanapun Daud selalu membawa kemenangan sebab TUHAN menyertai dia (1
Sam 18:5). Dari mana sih keberhasilan
Daud dimulai? Ayo kita pelajari bersama.
Daud
merupakan anak bungsu atau anak yang lahir terakhir dari sembilan bersaudara
(laki-laki; Eliab, Aminadab, Simea, Nataneel, Radai, dan Ozem, perempuan;
Zeruya dan Abigail—lihat; 1 Taw 2:13-17—yang diperanakkan Isai. Anak laki-laki
di masa itu sungguh sangat disayang keluarganya, apalagi bila anak lelaki yang
sulung. Tetapi lain halnya dengan anak bungsu. Anak bungsu, entah lelaki atau
perempuan biasanya diberikan tanggungjawab untuk mengurus rumah, ladang, dan
ternak. Nah, Daud sebagai seorang anak bungsu di keluarga Isai bertugas untuk
menggembalakan domba di padang rumput. Pekerjaannya tidak mudah, sebab pada
masa itu binatang buas yang memangsa domba masih banyak berkeliaran di padang
belantara Israel. Sehingga Daud seringkali harus belajar menggunakan senjata
untuk mengusir para binatang buas itu dan melindungi domba-dombanya dari
bahaya.
Suatu
kali datanglah nabi Samuel diutus TUHAN tuk mengurapi seorang dari anak Isai
sebagai raja menggantikan raja Saul. Saul telah tidak setia kepada TUHAN, maka
ia ditolak, dan mulai saat itu Roh Tuhan pergi dari Saul dan memenuhi Daud yang
telah diurapi oleh nabi Samuel. Ketika Roh Allah mulai memenuhi Daud, ia
mengalami penyertaan TUHAN yang luar biasa. Kelihaiannya dalam menghalau
binatang-binatang buas di ladang disertai
kekuatan Roh TUHAN untuk mengalahkan Goliat, pahlawan orang Filistin itu (1
Sam 17:40-54). Di masa inilah ia bertemu dan menjalin persahabatan dengan
Yonatan dan menjadi panglima tentara raja Saul.
Coba perhatikan, ketika Daud berada di padang
menjaga ternak ia sendirian dan melakukan tugas yang tidak enak. Bisa jadi ia
berpikir kenapa bukan kakaknya saja yang melakukan tugas menjaga ternak ini?
Kenapa tidak dia saja yang mengurusi pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting?
Tetapi Alkitab tidak mencatat bahwa Daud sampai mengeluarkan keluhan-keluhan
seperti itu.
Tetapi tahukah kamu, dalam keadaan seperti itu justru Daud belajar banyak hal?
Ia “terpaksa“ melindungi ternaknya dari binatang buas dengan berlatih menjadi pemberani. Hal inilah
yang nanti diberkati Tuhan untuk menjadi kekuatan Daud menjadi ahli perang. Dan
juga Daud ini ditemani para domba di padang. Kesehariannya ia bisa dikatakan
jarang bertemu dengan orang lain, dan pastilah hal ini membuatnya kesepian dan
sendiri. Namun karena “kemalangan” ini pula Daud gunakan waktu untuk bermain
dan berlatih kecapi. Ini berguna
nanti untuk mengiringi musik di kerajaan dan menciptakan banyak lagu dalam
kitab Mazmur.
Nah, kita akan mengetahui
bagaimana Daud mengalami sukacita yang
manusiawi. Apa itu “sukacita yang manusiawi”? Itu adalah sebuah perasaan
normal dari seorang manusia hidupnya disertai Tuhan meski masalah bertubi-tubi
datang. (Perhatikan kalimat yang dicetak tebal dikisah ini);
Hidup itu memang selalu berubah. Yang kemarin berjalan lancar dan menyenangkan, besuk bisa berubah menjadi tidak lancar serta tidak menyenangkan. Daud yang menjadi panglima tentara raja Saul menimbulkan iri hati sang raja karena banyak orang lebih menyanjung Daud dan memuji-muji Daud (1 Sam 18:7). Raja Saul membencinya dan ingin membunuhnya. Beberapa kali raja Saul melemparkan tombaknya kepada Daud supaya Daud mati. Dan beberapa kali pula Daud selalu diincar untuk dibunuh, tetapi TUHAN menyelamatkannya. Yonatan sahabatnya itu membantunya juga. Lalu karena Daud tidak ingin melawan raja yang ia hormati itu, Daud memilih untuk lari dan melarikan diri.
Daud mulai
berpikir, ia tidak mengerti kenapa kesetiaannya dan kebaikannya dibalas
sedemikian jahat oleh raja Saul. Ia lari ke nabi Samuel, tetapi Saul
mengejarnya sehingga ia kembali lari ke padang (1 Sam 19:18-24). Daud tidak
seorang diri, ia membawa anak buahnya lari dari padang rumput ke Nob, tempat
para imam mengadakan kebaktian. Di sana ia kelaparan dan meminta roti untuk
dimakan. Di sinilah Daud menulis Mazmur
59.
Daud lari kembali karena Saul mengerahkan tentaranya
kembali. Sampai-sampai ia lari kepada musuhnya; Akhis di Gat. Tetapi karena
takut bila dibunuh musuh, ia berpura-pura gila; ia menggores-gores tembok dan
membiarkan ludahnya meleleh dijanggutnya (1 Sam 21:10-15). Lalu Daud lari ke
sebuah gua yang berada di tebing berbatu beranama Adulam. Di sana rombongan
Daud bertambah-tambah karena orang-orang yang terbuang dari masyarakat
bergabung bersama dirinya. Saat ia
melarikan diri seperti ini ia menulis
Mazmur 34, 56 dan 57.
Singkatnya,
Daud bertahun-tahun harus lari kesana-kesini, ke berbagai kota, ke hutan, ke
desa-desa, dan ke gunung-gunung karena menghindari raja Saul. Dalam
kesusahannya itu, ia menciptakan Mazmur
54-59. Tahukah kamu apa artinya semuanya ini? Bila kamu mau membuka
Mazmur-mazmur ini dan membacanya dengan cermat, kamu akan melihat bahwa Daud
menulis kalimat-kalimat yang mengutarakan isi hatinya kepada TUHAN. Dari
Mazmur-mazmur itu Daud bernyanyi bagi Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan
mengandalkan Tuhan selalu. Daud
mendapatkan sukacita yang membuat ia
kuat menjalani hidup yang penuh tantangan. Meski diburu untuk dibinasakan, bila
mengandalkan penyertaan Tuhan, maka sukacita sorgawi itu akan tetap ada di hati
kita.
Poin yang
perlu direnungkan
a) Dalam setiap kejadian yang nampak, Daud selalu
berlaku baik. Namun sesungguhnya tangan TUHAnlah yang mengemudikan segala
perkara dan menjaga Daud tetap dalam rencana-Nya.
b) Sukacita
bukan berarti perasaan senang yang terus-menerus. Makna sebuah sukacita lebih
dalam daripada sekedar senang. Daud merasakan hal yang sedemikian.
Ungkapan-ungkapannya dalam kitab Mazmur begitu manusiawi melukiskan hubungannya
dengan Allah yang intim. Terkadang ia mengeluh lewat puisi, terkadang pula ia
memuji Allah. Kadang ia mengadu kepada takhta keadilan Allah, namun sering ia
kembali mengakui bahwa TUHAN itu adalah Allahnya yang besar kasih setia. Itulah
sukacita Daud yang sejati.
c) Komitmen atau ketetapan hatinya untuk selalu
berlaku taat dan berkenan kepada Tuhan menghantarnya kepada kemalangan dan
penderitaan. Dan dari penderitaannya itu TUHAN hendak mendidiknya untuk siap
bermental seorang pemenang; raja.
d) Ketika Daud lari kesana-kemari untuk menghindari
Saul, justru Roh Allah membimbingnya untuk tetap berpegang kepada Allah—lihat
dan renungkan Mazmur yang bercetak tebal diatas—serta membantunya untuk
mengenal daerah-daerah penting yang berpotensi untuk nantinya membangun distrik
kerajaan dan ekonomi kerajaan.
e) Air mata, kekecewaan, dan celaka sering datang
mengunjungi hidup Daud. Dan dalam keterpurukannya itu, hanya imanlah yang
membuatnya mampu bangkit kembali serta mewujudkan janji Allah untuk menjadi
raja Israel. Allah begitu rela menyertai orang muda ini dengan anugerah iman
yang luar biasa. Terpujilah Allah!
Komentar
Posting Komentar