PERTEMUAN DI PERAYAAN ONISHUMA, By: Samuel Budiyanto

“Kenapa patung Samurai itu wajahnya rata?” tanya seorang bocah kepada seorang pria paruh baya di sampingnya. Pria paruh baya itu segera menggendongnya dan menjawab; “Wajah orang itu memang tidak dikenali nak, tetapi kita tetap mengenali sosoknya sebagai pendekar pedang penyelamat Onishuma dua puluh lima tahun yang lalu. Oleh karena dahulu dia melindungi kota inilah kita sekarang bisa hidup disini nak.”
Perayaan hari itu mulai meriah sekali. Orang-orang dari berbagai sudut kota datang ke alun-alun Onishuma sambil berkerumun di depan patung seorang Samurai yang gagah. Patung itu adalah sebuah peringatan kepada seorang Samurai yang konon telah menyelamatkan daerah Onishuma dari tujuh ratus pasukan pembantai yang dipimpin oleh Hiruna Jimbo. Nama samurai itu adalah Iwachi. Orang-orang mengaguminya sebab Iwachi berhasil melindungi Onishuma seorang diri dengan hanya berbekal dua pedang, yaitu; Kodachi dan Katana. Menurut cerita orang-orang tua, Iwachi adalah merupakan pemuda pencari kayu bakar yang telah menciptakan jurus-jurus pedang tak lazim. Ia tidak suka bergaul dan oleh karenanya ia agak dijauhi masyarakat. Akan tetapi nyatalah bahwa justru Iwachi yang menjadi penyelamat ketika Onishuma—yang terkenal saat itu masih sebagai desa perdagangan—diserang oleh Hiruna Jimbo yang ingin menjadikan Onishuma sebagai markas gerombolan pembantainya.
“Duarr… duarr…!” suara petasan dan kembang api mulai memecah suasana ramai di alun-alun kecil itu. Rasa senang, bangga, dan rasa syukur memenuhi perayaan Onishuma tersebut. Terlihat pula di sana-sini pedagang makanan kecil, pernak-pernik hiasan wanita, mainan, tempat permainan menangkap ikan, juga teater drama Iwachi No Boru digelar. Iwachi No Boru sendiri adalah drama yang mempertontonkan kisah pertempuran legendaries antara Iwachi dan Hiruna Jimbo itu sendiri. Nampak pula para wanita memakai pakaian tradisional, sedangkan para pria hadir lengkap dengan menyandang pedang kayu sebagai tanda penghormatan di hari itu.
“Permisi pak, permisi, adakah yang berminat dengan gerabah ini; ada celengan, tembikar, teko, dan cangkir…. Silahkan!” teriak seseorang yang menjajakan dagangannya di tengah kerumunan ramai itu. Orang itu nampaknya sudah tua, badannya sedikit kurus, pakaiannya compang-camping, matanya sangat sipit, dan wajahnya hampir selalu menampakkan senyuman. Ia ke sana-sini menawarkan dagangannya namun tidak ada yang menggubrisnya sama sekali. Memang alun-alun itu nampak ramai tetapi bukan saatnya bagi seorang tua utnuk berdagang barang yang kurang menarik. Akan tetapi ia tidak menyerah, dipanggulnya dagangan itu dan ia masuk menerobos kerumunan di perayaan tersebut sambil terus menawarkan gerabah-gerabahnya.
“Hai pak tua, apa kamu tidak tahu ini hari apa? Kalau mau berdagang jual barang yang menarik donk!” ejek beberapa pria yang terganggu olehnya. Pria tua itu menundukkan kepalanya sambil meminta maaf dan terus berjalan. Beberapa kali ia menemukan hal yang sama; barang dagangannya tidak laku dan justru menerima ejekan-demi ejekan.
“Brakkkk!!!” seorang pemuda yang tinggi besar menendang gerabah-gerabah orang tua itu sampai beberapa ada yang pecah. “Hai orang pak tua miskin, minggir sana! Dari tadi kulihat kau hanya mengganggu kenyamanan orang-orang yang berjalan saja. Carilah hari lain untuk berjualan, dan juallah benda yang lebih menarik. Sudah tidak laku dan mengganggu saja kau ini. Kalau kau masih mau mengganggu akan kuhancurkan semua daganganmu. Cepat pergi sana!” teriak pemuda yang tinggi besar tersebut. Dari pakaiannya yang cukup rapi dan pedang Kodachi asli yang menempel di ikat pinggang, pemuda besar itu adalah seorang aparat penjaga keamanan kota Onishuma. Hal itu membuat pak tua tadi agak terkejut dan sedikit terdorong ke belakang. Ia menyadari bahwa beberapa barang dagangannya pecah dan ia tidak diterima dengan ramah di sana. Maka dirapikannya barang-barangnya lalu meminta maaf kepada aparat tersebut dan pergi menjauh ke pinggiran batas alun-alun itu.
“Ahh, orang-orang di sini sudah tidak ramah lagi kepada orang tua sepertiku… Untunglah tadi ada beberapa gerabah yang sudah laku. Lebih baik aku mengisi perutku yang sudah lapar ini” gumamnya. Dipanggulnya kembali dagangannya sambil berjalan mencari tempat kedai makanan kecil. Tidak sulit sebenarnya untuk mengenyangkan perut saat perayaan Onishuma tersebut, sebab di sepanjang jalan banyak terdapat penjual makanan. Akan tetapi pandangan orang tua itu mengarak ke suatu kedai kecil di samping sungai yang agak kumuh kenampakannya. Memang orang tua itu hanya mencari makanan murah yang cukup untuk mengisi perut kurusnya, apalagi dari kedai kumuh itu keluar harum Takoyaki, makanan kesukaannya. Ia meletakkan dagangannya di samping kedai lalu masuk dan memesan makanan.
“Paman berikan aku semangkuk air tawar dan beberapa Takoyaki hangat itu, sepertinya nampak lezat sekali…” katanya dengan wajah ramah kepada penjual di sana. Penjual tersebut juga seorang pria tua berjenggot beralis tebal yang segera memenuhi permintaan tersebut. Keadaan sepi di kedai tersebut tiba-tiba menjadi menegangkan saat penjual tersebut mengantarkan pesanan itu tadi dan ia melihat wajah dari pedagang tua itu.
“Bukankah tuan ini adalah….” Kata penjual ini dengan terbata-bata sambil terperangah. Sontak seketika itu juga pedagang tua itu menjadi waspada dan mulai melihat pedagang tua itu dengan tatapan tajam.
“Apakah paman mengenal saya?” tanya pak tua itu dengan nada serius. Lalu penjual tersebut menyingsikan lengan baju kanannya sambil berkata; “Saya tidak akan pernah melupakan orang yang menghabisi ratusan anak buah saya dengan pedang Katana yang menari secara tak lazim oleh pendekar muda yang sangat hebat dua puluh lima tahun yang lalu…” Mendengar jawaban tersebut, orang tua itu bertambah siaga namun tetap tenang. Diambilnya sebuah lidi kecil dan mulai menusuk hidangan Takoyaki didepannya dan makan dengan santai. Katanya sambil tersenyum: “Mungkin anda salah orang paman, saya dari dahulu hanya penjual gerabah keliling yang hidup terlunta-lunta. Bahkan tentang pedang pun saya tidak pernah terpikir untuk memegangnya seumur hidup saya, ha ha ha.” Akan tetapi jawab penjual Takoyaki tersebut; “Saya memang sudah terlalu tua untuk membuktikannya, namun sayang sekali, ingatan dan kemampuan saya untuk mengenali orang orang berilmu tinggi belum juga menjadi tumpul, ha ha ha… bukankah saya tidak salah tuan Iwachi?”
Mendadak perkataan penjual tersebut membuat orang tua itu sangat terkejut sampai ia tidak bisa menelan Takoyaki di mulutnya. Dengan tatapan tajam dan posisi siaga, orang tua itu kembali bertanya: “Hari raya Onishuma mungkin membuat paman terlalu bersemangat, jangan terlalu menduga-duga di hadapan orang asing ha ha ha…” Tetapi kembali penjual tersebut meladeni obrolan itu dengan jawaban yang mengejutkan, katanya; “Ya, di masa tuaku ini aku sering mengigau dan bermimpi aneh, tuan. Aku bermimpi ketika aku muda para anak buahku dibunuh oleh seorang pencari kayu di samping kota ini, yang dahulu masih berupa desa. Padahal mereka adalah samurai-samurai yang terlatih dan cakap menggunakan pedang dari seluruh negeri. Aku juga bermimpi bahwa pemuda itu juga pernah ingin membunuhku saat aku memacu kuda untuk menyerangnya, ia menggunakan pedang Katana untuk membelah kudaku sekaligus berusaha membunuhku. Kekuatan dan jurus-jurusnya begitu aneh, akurat, dan sulit dihindari. Untung saja saat ia membelah kuda tungganganku ia mengurangi sedikit tenaganya sehingga aku mampu menghindari kematian. Kami bertempur dengan kemampuan maksimal selama satu hari penuh, tetapi aku tidak pernah bisa mengunggulinya. Mengagumkan pemuda itu, ia tidak sedikitpun mempunyai rasa lelah meskipun ia telah membantai enam ratus enam puluh sembilan anak buahku. Seorang monster yang mengerikan, untung saja ia adalah orang baik yang melindungi desa Onishuma dari pasukanku… ha ha ha”
Mendengar tuturan penjual tadi, pak tua itu sedikit menjadi tenang. Dengan tersenyum ia melanjutkan makan lalu ganti bercakap; “Ah paman, di mimpi itu mungkin kenyataannya berbalik. Pemuda tersebut memang tidak mampu menyentuhmu karena paman begitu cekatan. Beberapa tebasan dan jurus-jurus yang biasanya mampu membunuh satu pasukan berkuda pun tidak mampu melukaimu. Paman itu pasti orang hebat saat di mimpi tersebut. Aku begitu kagum dengan orang-orang hebat seperti paman… ha ha ha… senang bertemu denganmu kembali: tuan Hiruna Jimbo!” Penjual Takoyaki itu pun membalas perkataan penjual gerabah tua tersebut dengan tawa yang riang. Ia lalu mengeluarkan teko kecil berisi teh panas. Setelah membaginya dalam cangkir kecil, berkatalah ia: “Aku tidak minum Sake dan tidak mempunyai minuman yang enak, hanya teh hijau yang kupunya. Kukira tuan Iwachi juga tidak minum sesuatu yang memabukkan bukan?” Jawab Iwachi: “Aku ini dari kecil hanya pencari kayu dan penjual gerabah, mana mungkin sanggup membeli minuman mahal seperti itu paman Jimbo ha ha ha.”
“Dua puluh lima tahun sudah berlalu dari waktu kita bertarung di sini. Ketika aku meminta kau membunuhku saat aku kalah tetapi kau menolak, saat itulah aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupanku yang penuh darah lalu berkeliling untuk mendirikan kehidupan normal sebagai orang biasa. Aku mengganti namaku dengan nama Hakku dan memperkenalkan diri sebagai pengembara dari Kyosu. Setelah sepuluh tahun aku kembali ke Onishuma, disini sudah sangat berbeda keadaannya. Orang-orang sudah tidak mengenal wajahku lagi sehingga aku bisa mendirikan kedai Takoyaki di daerah ini. Lima belas tahun kuhabiskan masa hidupku sampai sekarang, dan tiap tahunnya aku menemukan desa Onishuma berkembang menjadi kota kecil yang cukup padat. Dan yang paling membuatku mencintai tempat ini adalah tiap tahunnya ada perayaan Onishuma, perayaan yang mengingatkan aku pada seorang pemuda yang memberikan kesempatan hidup kepadaku. Kini aku bisa meneruskan sisa hidupku dan dikenal sebagai pria gendut penjual takoyaki. Bila aku nanti mati, nama Hiruna Jimbo akan ikut membusuk bersama mayatku sedangkan nama Hakku akan tetap tertera di batu nisan yang kokoh. Terimakasih tuan Iwachi, nyawaku dan hidupku sekarang ini adalah karena kemurahanmu.” Kata Jimbo sambil menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata di hadapan Iwachi.
Iwachi pun juga tak kuasa menahan rasa harunya. Air matanya serasa tak terbendung dan dengan sedikit terisak-isak ia menjawab: “Andalah pendekar pedang terhebat tuan Hiruna Jimbo. Saya dahulu adalah seorang penyendiri dan cenderung sombong akan kekuatan ilmu pedang yang saya ciptakan. Memang saya tidak menampakkan kesombongan itu dihadapan orang-orang, namun jauh di lubuk hati saya saya sangat membanggakannya bahkan hamper-hampir merasa seperti seorang dewa yang tak terkalahkan. Saat ratusan anak buah anda saya bantai itulah puncak dari kesombongan saya. Saya terbius oleh ambisi untuk menjadi pendekar pedang terhebat. Namun ketika saya berhadapan dengan tuan Jimbo itulah pedang Katana saya serasa hanya seperti pisau pemotong sayuran, bahkan kekuatan saya tidak bisa membuat anda terluka sedikitpun. Anda adalah lawan terberat yang membuat saya sadar bahwa kekuatan saya terbatas dan saya sungguh tidak pantas mendewakan diri. Itulah alasan saya tidak mampu membunuh tuan Jimbo saat diakhir pertempuran dua puluh lima tahun yang lalu… Di atas langit masih ada langit, dan kekuatan lawan terhebat adalah cermin terbaik untuk merendahkan diri. Saya lah yang harus berterimakasih padamu, tuan Hiruna Jimbo.”
Kedua orang itu saling berlinangan air mata dan menundukkan kepala mereka sambil mengenang masa lalu. Setelah mereka menguasai diri maka Hiruna Jimbo berjabat tangan dengan Iwachi lalu saling memaafkan kesalahan dan menghilangkan dendam di masa lalu. Hiruna Jimbo alias Hakku pun bertanya kepada Iwachi; “Lalu dimanakah tuan Iwachi tinggal selama ini? Apakah pedang tuan Iwachi masih tuan gunakan?”
Iwachi menghabiskan Takoyakinya yang terakhir dan meminum teh hangat itu lalu menjawab; “Setelah pertempuran dengan tuan Jimbo, aku menghilang ke pelosok-pelosok hutan. Aku bertapa dan mencari jati diri dan kedamaian yang lebih baik untuk melanjutkan hidup. Itulah sebabnya rakyat disini tidak pernah mengenal wajahku sehingga patung di alun-alun itu tetap tidak berwajah, aku tadi pun diam-diam telah melihatnya terpelihara seperti itu. Setelah mendapatkan kedamaian aku memutuskan untuk meneruskan hidupku dengan berjualan apa saja yang bisa menopang kehidupanku. Menjual kayu bakar, mengantar pesanan makanan, dan ketika badanku sudah tidak terlalu terampil seperti ketika aku muda aku memilih untuk tinggal di sisi hutan kota ini sambil membuat gerabah dan berkeliling menjualnya seperti sekarang. Pedangku telah kubuang jauh di sisi gunung. Aku tidak mau memegangnya lagi. Lagipula kini Iwachi sudah tiada, ia telah menjadi patung yang berdiri di alun-alun di sana itu, kini aku hidup dengan nama Sanjo. Adalah sebuah upah langit bila sekarang aku bisa melihat tuan Jimbo seperti sekarang ini.”
“Jadi tuan sudah melihat patungmu? Hm… saya mengerti apa yang tuan rasakan dan bagaimana tuan Iwachi, atau tuan Sanjo ini menjalankan kehidupan baru. Kita sama-sama keras ketika berada di titik puncak, padahal ketika kita berada di titik terendah kita terbuka bagi segala bentuk perubahan… Ah sudahlah, cukuplah kita mengenang masa lalu. Hidup saya adalah hidup baru, demikian juga dengan tuan Sanjo ini. Mari saya ajak tuan Sanjo menghadiri puncak perayaan Onishuma di tengah alun-alun. Saya rasa itu adalah hadiah terbaik di umur saya yang kian suntuk ini” jawab Jimbo seraya mempersilahkan Iwachi berjalan keluar kedai itu.
Dua orang tua tersebut berjalan bersama ke arah alun-alun kota. Di sana Hiruna Jimbo alias Hakku menunjukkan tempat-tempat yang dahulu pernah menjadi tanah pertempuran mereka namun kini telah berkembang menjadi rumah-rumah yang cukup mewah. Ketika mereka berdua sampai di alun-alun, pertunjukan Iwachi No Boru juga dimulai. Kedua orang tua itu nampak menikmati drama yang ingin mewakili mereka sendiri. Sebentar-sebentar mereka pun saling memuji dan mengkritik; “Ah, tuan Hiruna Jimbo seharusnya diperankan orang yang lebih gagah”-“Wah anda yang asli lebih cekatan daripada drama ini tuan Iwachi”. Sedang mereka saling memuji dan mengkritik, kerumunan orang di belakang mereka berteriak-teriak; “Iwachi luar biasa! Pertunjukan yang bagus! Gagah sekali!” Ketika drama itu berakhir dengan cerita yang agak aneh sebab dalam drama itu tokoh Iwachi dan tokoh Hiruna Jimbo sama-sama mati, kedua orang itu saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak bersama. Ketika itulah puncak Hari Perayaan Onishuma berlangsung; kembang api dan petasan dinyalakan, banyak orang secara bersahut-sahutan berteriak; ‘Iwachi No Boru! Iwachi No Boru! Iwachi No Boru!’
Dan Iwachi serta Hiruna Jimbo sendiri ada di sana, mereka ikut dalam perayaan itu, hanya saja semua itu mempunyai arti yang lebih dalam bagi mereka...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari tokoh...

Belajar dari tokoh.....