Belajar dari tokoh.....

Yonatan//Kasih//Persahabatan

Pertemanan itu indah, apalagi persahabatan. Tahukah kamu, bahwa didalam Alkitab ada dua orang yang menjalin sebuah persahabatan yang sedemikian indah? Begini nih ceritanya;

Pada tahun + 1048-1030 sM, ada seorang pemuda yang kaya karena dia anak seorang raja. Ia anak sulung dari raja pertama Israel bernama Saul. Anak itu benama Yonatan. Sebagai anak pertama, tentunya ia diistemewakan oleh ayahnya. Tahukah kamu bahwa kebiasaan zaman itu mengharuskan anak laki-laki sulung untuk menggantikan ayahnya sebagai raja?  Ya benar; Yonatan inilah yang kelak akan menggantikan sebagai raja Israel bila raja Saul sudah tua atau meninggal.
Tetapi tunggu dulu, ada yang datang tuh. Ada seorang muda yang kali ini datang dengan diiringi sorak-sorai kemenangan. Oh, ternyata Daud yang datang setelah mengalahkan Goliat pahlawan raksasa bangsa Filistin itu. Daud datang dengan kemenangan yang besar bagi kerajaan Saul. Wah, semua orang bertepuk tangan dan bersorak sorai karena keberanian si Daud itu telah memberikan kemenangan yang besar bagi rakyat Israel. Yonatan pun melihat bahwa ayahnya, raja Saul, datang dan menghargai Daud dengan penuh penghormatan (1 Sam 17:45- 18:5). Wah, sebuah saingan besar datang dalam hidup Yonatan. Karena bila Daud semakin disukai banyak orang, yang nanti menjadi raja menggantikan Saul bukanlah dia, tetapi si Daud itu.
Nah, pernahkah diantara kalian yang menjumpai teman yang lebih hebat, pintar, tampan atau cantik, dan pokoknya “lebih” daripada kalian? Sikap apa yang kalian ambil?Apabila Yonatan menjadi cemburu atau iri kepada Daud, itu sangat wajar. Yonatan ini sebenarnya juga adalah pahlawan yang mengalahkan banyak musuh dengan gagah berani (1 Sam 14:1-23)! Lalu kenapa sekarang Daud yang dipuji-puji dan menjadi perhatian banyak orang? Memang pantas saja bila Yonatan iri dan dengki kepada Daud. Tetapi yang terjadi tidak demikian.
Ketika Yonatan bertemu dengan Daud, berpadulah jiwa mereka (1 Sam 18:1). Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. Ia mengikat perjanjian persaudaraan dengan Daud dan dari saat itulah persahabatan yang indah dimulai. Lihatlah, Yonatan tidak membenci Daud yang lebih terkenal dibandingkan dia sebagai pangeran kerajaan Israel, tetapi justru Yonatan membuka hati dan menempatkan kasih diatas perasaan egois.
Apabila suatu saat kalian diperhadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan; antara memihak orang yang kalian cintai dan kebenaran, apa yang akan kalian pilih?Apakah pilihan itu berdasarkan kasih?Perhatikan sebuah prinsip; Kasih selalu memihak kepada kebenaran dan tidak berkompromi dengan yang tidak benar.Sesudah persahabatan mereka terjalin, segera Daud diangkat menjadi panglima tentara Saul yang memenangkan banyak pertempuran. Dan mulailah raja Saul, ayah dari Yonatan itu, iri kepada Daud dan ingin membunuhnya! Raja Saul rupanya takut bila si Daud itu merebut statusnya sebagai raja karena Daud makin banyak dikagumi orang-orang di Israel dan makin dipuji-puji di segala tempat. Raja Saul pun dengan terbuka mengatakan kepada para pegawainya dan Salomo bahwa Daud harus dibunuh. Yonatan mengetahui hal ini. Ia juga tahu bahwa sebagai anak, ia harus berbakti kepada ayahnya yang juga adalah rajanya—orang yang akan mewariskan takhta kerajaan kepadanya di kemudian hari.  Tetapi Yonatan adalah seorang yang sudah bersahabat dan menyukai Daud (1 Sam 19:1). Maka, ketika Saul hendak melaksanakan rencananya untuk mencelakakan Daud, Yonatan datang kepada Daud dan segera memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap ayahnya (1 Sam 19:2). Tentu saja Yonatan saat itu merasakan kebingungan yang muncul berkali-kali, yaitu; antara memihak ayahnya yang benci kepada Daud, atau Daud sahabat yang dikasihinya itu. Namun Yonatan adalah seorang yang setia dan memegang terus ketetapan hatinya untuk mengasihi Daud sebagai sahabatnya sampai kapanpun. Ia memilih untuk memihak kepada kebenaran. Ia mengasihi sahabatnya.
Persahabatan antara Yonatan dan Daud sangat mengharukan. Dihadapan raja Saul, Yonatan membela Daud tanpa mundur sedikitpun karena ia mengetahui bahwa Daud orang benar (1 Sam 19:4-6). Ketika Ayahnya sudah bertekad untuk membinasakan Daud, Yonatan lari kepada Daud memberi peringatan. Tetapi raja Saul tetap ingin membunuh Daud tanpa ampun lagi. Saul mengerahkan tentara untuk menangkap dan menyerang Daud. Namun Daud berhasil melarikan diri dan oleh pertolongan TUHAN, Daud selamat dalam pelariannya (1 Sam 19:18-23).
Diam-diam, Daud menemui Yonatan di dekat padang Rama dan mereka menguatkan hubungan persahabatan mereka kembali dengan sebuah janji kesetiaan diantara mereka berdua sampai kelak kepada anak-cucu mereka (1 Sam 20:12-17). Maka berpisahlah mereka kembali, Daud ke sebuah padang belantara dan Yonatan kembali ke istana kerajaan. Di istana itu Yonatan baru mengerti sungguh-sungguh bahwa keputusan raja Saul untuk melenyapkan Daud sudah bulat. Dihadapan Yonatan, raja Saul menghina Daud dan sangat bernafsu untuk membunuhnya. Maka hati Yonatan pun menjadi marah bercampur sedih. Marah kepada raja Saul karena ingin membunuh sahabatnya, dan sedih karena hubungan baik antara ayahnya dan sahabatnya itu tidak mungkin bisa dipulihkan kembali. Daud mungkin akan segera mati karena raja Saul akan memburunya tanpa ampun dan Yonatan tidak bisa melakukan apa-apa selain menghibur sahabatnya. Yonatan kembali berada diantara dua pilihan yang berat; mengabdi kepada ayahnya yang adalah raja atau tetap setia kepada Daud sahabatnya itu (1 Sam 20:30-34).
Akhirnya tidak lama kemudian, Yonatan menemui Daud di sebuah padang dan memberitahukan bahwa ayahnya akan segera membunuh Daud. Mereka bertemu dalam rasa haru yang sangat mendalam. Dalam bayangan mereka saat itu adalah terakhir kali mereka saling bertemu. Oleh karena itu mereka saling memeluk dan saling memaklumkan perpisahan. Tetapi Yonatan mengingatkan janji dan sumpah mereka kepada Daud di hadapan TUHAN bahwa mereka akan tetap setia sebagai sahabat, selamanya (1 Sam 20:35-43).
Berbulan-bulan lamanya Yonatan tidak bertemu dengan sahabatnya itu lagi. Berbulan-bulan itu pula rupanya raja Saul memburu Daud di segala tempat untuk membunuhnya. Yonatan merasa sedih sekali. Ia khawatir bila sahabatnya itu mati di tangan ayahnya. Yonatan gelisah menunggu kabar tentang Daud, dan suatu saat ia mendengar bahwa Daud berada di Koresa, sebuah tempat di padang gurun Zif. Yonatan pun bergegas menemui Daud.
Di Koresa itulah Yonatan berkata kepada Daud; “Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua dibawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu” (1 Sam 23:15-18). Yonatan sadar betul bahwa bukanlah ia yang akan menggantikan ayahnya Saul menjadi raja atas Israel, melainkan Daud yang telah diurapi Tuhan. Didalam perkataannya ini nampaklah bahwa Yonatan bukanlah seorang yang ingin menonjolkan diri sendiri. Yonatan setia kepada Daud meskipun ayahnya adalah musuh Daud. Yonatan membela sahabatnya karena Daud adalah orang benar. Itulah sebabnya Yonatan sangat mengasihi Daud bagaikan jiwanya sendiri. Dan, perkataan Yonatan itu adalah perkataan terakhir pada pertemuan terakhir diantara dua sahabat itu. Sesudah mereka bertemu ini akhirnya mereka berpisah untuk selama-lamanya di dalam dunia ini.
Pertemuan mereka telah berakhir. Dua sahabat yang saling mengasihi ini akhirnya berpisah untuk selama-lamanya. Dan beberapa tahun kemudian, Daud mendengar kabar bahwa Yonatan tewas dalam sebuah peperangan melawan orang Filistin (2 Sam 1:3-12). Sudah bertahun-tahun lamanya Daud tidak mendengar kabar Yonatan lagi, dan kabar terakhir yang ia dengar adalah sebuah berita bahwa Yonatan telah tewas. Betapa sedih dan hancur perasaan Daud sampai ia menulis dalam 2 Sam 1:25-26;
“Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.
Merasa susah aku karena engkau saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan…”

Pertemuan dua sahabat itu berakhir sudah, namun persahabatan dengan Yonatan tetap tersimpan di hati Daud. Kasih mereka tetap indah selama-lamanya.

Poin yang perlu direnungkan
a)      Kasih Yonatan kepada Daud menghilangkan segala prasangka dan rasa iri dalam hatinya.
b)      Kasih Yonatan terhadap Daud tetap terjaga dengan kesetiaan dan kemurnian hati.
c)   Kasih Yonatan kepada Daud membuat ia berani untuk bertindak dalam kebenaran dan tidak takut kepada rencana ayahnya yang jahat.
d)      Kasih Yonatan terhadap Daud telah menjadi sarana Allah menguatkan iman Daud. Perhatian dan kesetiakawanan Yonatan menjadi berkat yang tidak terkira bagi Daud yang sedang dirundung masalah di pelarian itu.

Komentar

  1. Mau nambahin 1 poin lagi kak(boleh?).
    e) Setia pada janji. Daud tetap memegang janji pada Yonatan, dengan mengasihi Mefiboset (anak Yonatan)meski ia timpang. Mefiboset boleh makan sehidangan dengan Daud saat itu menjabat sebagai Raja(2 Samuel 9:7). Padahal dalam 2 Samuel 5:8 tertulis jelas "... hati Daud benci kepada orang-orang timpang dan orang-orang buta ..." Hmmm suatu hal yang kontras bukan? Namun Daud merendahkan egonya dan tetap berpegang pada janji itu.
    Selain itu masih ada juga kisah lainnya di 2 Samuel 21:1-14 yang membuktikan kesungguhan hati Daud untuk menepati janjinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sangat boleh. Mari bertumbuh bersama didalam Pembinaan Iman :)
      Tambahan ini merupakan pandangan yang teliti.
      Dalam tradisi kitab Samuel memang banyak keterangan tentang kebaikan Daud. Terlebih dalam tradisi kitab 1 Tawarikh yang cenderung mengelu-elukan dinasti raja ini.

      Nantikan posting berikutnya ya, undang yang lain untuk menyelenggarakan PA disamping PA On-Line ini :)
      Thank's Lolita.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari tokoh...

PERTEMUAN DI PERAYAAN ONISHUMA, By: Samuel Budiyanto